Pena Rohani - Berkomitmen Untuk Menegakkan Kebenaran - Dalam perjalanan kehidupan, kita sering dihadapkan pada persimpangan: memilih untuk berdiri teguh dalam kebenaran atau menyerah pada arus dunia. Kebenaran adalah fondasi yang kokoh, tetapi menjaganya bukanlah perkara mudah. Yesus sendiri menunjukkan teladan yang luar biasa dalam menegakkan kebenaran, sebagaimana yang kita lihat dalam Renungan Minggu Markus 11:15-19. Dalam perikop ini, kita menyaksikan bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah, menunjukkan ketegasan-Nya dalam menghadapi penyimpangan dan ketidakadilan.
Seperti seorang penjaga yang setia menjaga benteng dari serangan musuh, kita pun dipanggil untuk hidup dalam kebenaran. Namun, bagaimana cara kita menghidupi komitmen ini? Dan mengapa ini begitu penting dalam iman Kristen? Mari kita merenungkan kisah ini lebih dalam.
Yesus Menyucikan Bait Allah
1. Kebenaran yang Dilanggar
Banyak dari kita mungkin tidak berjualan di gereja, tetapi tidakkah kita terkadang membiarkan keserakahan, kepalsuan, atau ketidakjujuran masuk ke dalam hati kita? Hati kita adalah Bait Allah yang hidup. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa menjadi seperti para pedagang yang mengabaikan tujuan utama dari tempat suci ini.
2. Komitmen Yesus dalam Menegakkan Kebenaran
Yesus tidak tinggal diam ketika melihat pelanggaran yang terjadi di rumah Tuhan. Ia bertindak tegas, menggulingkan meja-meja penukar uang dan mengusir para pedagang. Tindakan ini bukan sekadar kemarahan emosional, tetapi sebuah pernyataan bahwa kebenaran harus ditegakkan, meskipun menghadapi risiko dan perlawanan.
Yesus tidak takut terhadap otoritas agama pada saat itu. Ia tidak tergoda untuk berkompromi demi kenyamanan. Sikap-Nya mengajarkan kita bahwa menegakkan kebenaran memerlukan keberanian dan keteguhan hati. Kita dipanggil untuk meneladani-Nya, berani berdiri di pihak yang benar, bahkan jika itu berarti menghadapi tantangan.
3. Ilustrasi: Pasar yang Berubah Fungsi
Bayangkan sebuah taman kota yang awalnya dibangun sebagai tempat rekreasi, tempat di mana anak-anak bisa bermain dengan riang, keluarga bisa berkumpul, dan orang-orang bisa beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Awalnya, taman ini dijaga dengan baik, penuh dengan pepohonan rindang, bangku-bangku yang nyaman, dan udara yang segar.
Demikian pula dengan Bait Allah pada zaman Yesus. Seharusnya menjadi tempat peribadahan yang suci, tetapi malah berubah menjadi tempat transaksi duniawi. Orang-orang yang datang untuk berdoa justru harus berhadapan dengan hiruk-pikuk pasar. Kesucian telah ternodai oleh keserakahan.
Begitu juga dengan hati kita. Tuhan ingin hati kita menjadi tempat tinggal-Nya, penuh dengan kebenaran, kasih, dan ketulusan. Namun, sering kali kita membiarkan nilai-nilai duniawi merusaknya. Ambisi pribadi, kesombongan, kepalsuan, dan kompromi dengan dosa perlahan-lahan menggeser posisi Tuhan dalam hidup kita. Jika kita tidak segera bertindak, hati kita akan kehilangan makna sejatinya sebagai tempat di mana Tuhan bersemayam.
Apakah kita membiarkan hati kita dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan? Ataukah kita berani mengambil sikap untuk membersihkannya, seperti Yesus membersihkan Bait Allah?
Panggilan bagi Kita
1. Hidup dengan Integritas
Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia (Matius 5:13-16). Ini berarti hidup dengan kejujuran, menolak korupsi, dan tidak tergoda untuk berkompromi dengan dosa. Apakah dalam pekerjaan, keluarga, atau pelayanan, kita harus menjadi contoh dalam komitmen kebenaran.
2. Menghadapi Tantangan dalam Menegakkan Kebenaran
Berdiri untuk kebenaran tidak selalu mudah. Dunia mungkin menertawakan, menekan, atau bahkan menentang kita. Namun, ingatlah bahwa Yesus sendiri menghadapi perlawanan ketika menegakkan kebenaran. Jika kita tetap teguh, kita tidak akan berjalan sendirian. Tuhan beserta kita.
3. Membersihkan Bait Allah di Dalam Diri Kita
Bait Allah saat ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga hati kita. Apakah hati kita masih murni dan setia kepada Tuhan? Atau sudah dipenuhi dengan ambisi duniawi, kepalsuan, dan dosa? Marilah kita memeriksa diri dan membiarkan Tuhan menyucikan hati kita.
Kesimpulan dan Pesan Pengutusan
Maukah kita menjadi pribadi yang berdiri teguh dalam kebenaran, bahkan saat dunia menentangnya? Mari berkomitmen untuk menjadikan hidup kita sebagai Bait Allah yang kudus, tempat di mana kebenaran dan keadilan dinyatakan.
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) - (pr)**
Sumber Nas: Markus 11:15-19; writer/editor: penaRadmin/pr
Shalom, semuanya, Salam Sejahtera. Terima Kasih telah membaca tulisan ini. Silahkan, temukan kami dan dapatkan informasi terubdate lainnya, cukup dengan Klik Mengikuti/follow kami di Google News DISINI. than's. God bless.
© 2025 All Right Reserved - Designed by penarohani
0Comments